GARUT KITA

Jaket Kulit Model Terbaru

Rabu, 04 Mei 2016

  Jaket Kulit Model Terbaru


HAllooo semuanya, penyuka fashion terutama "leather jacket", jaket kulit garut merupakan jaket kulit yang identik dengan pengrajin yang berada di wilayah jawa barat, ini dia sampel atau gambar jaket kulit yang saya rasa unik dan belum banyak beredar di pasaran.; 

  Jaket Kulit Terbaru Pria

jaket kulit pria merupakan salah satu type jaket kuli yang banyak di carai wajar,sebab pengguna jaket kulit kebanyak kaum pria hehehehe, sekarang jaket kulit wanita
 jaket kulit wanita 

jaket kulit wanita memiliki parian yang berbeda dari sisi model, apa sebabnya, sebanyna yaitu pada pinggul wanita ada lekukan jadi disainer nya menyeseuaikan jugga hehehehehehh lagi,...dan model jake kulit biker

JAKET KULIT BIKER  


dan ini sampel dari rompi kulit

rompi kulit -Vest  


 




Membeli jaket kulit; mengapa harus ejaketkulit.org ?

Rabu, 04 September 2013



Membeli jaket kulit; mengapa harus ejaketkulit.org ?


Pertanyaan mengapa ejaketkulit.org? adalah pertanyaan yang ada dalam benak saya saat ini.. ketika ingin sebuah jaket kulit, sebaiknya kita imajinasikan penampilan kita yang igin terlihat elegan, cool dan tetap up to date. Tentunya setelah kita membayangkan diri kita sendiri ketika memakai jaket kulit  akan terpikirkan bagaimana cara membeli jaket kulit atau bagaimana langkah yang tepat untuk memiliki jaket kulit agar penampilan kita sesuai dengan apa yang kita imajinasikan tadi.. adalah jawaban cerdas bagi anda ketika anda mencari disain jaket kulit atau model jaket kulit secara online, sebab dalam internetlah peluang yang paling mudah, smart dan cepat menemukan jenis jaket kulit terbaru, baik jaket kulit untuk biker maupun jaket kulit pria dan jaket kulit wanita dalam kategori yang berbeda.
ejaketkulit.org merupakan media produsen jaket kulit di garut, mengapa harus ejaketkulit.org? merupakan jawaban sekaligus pertanyaan.. sebab salah satu sentra jaket kulit berkualitas disana tempatnya, di ejaketkulit.org kita bisa menentukan disain sesuai hasrat dan keinginan kita, yang kita lakukan adalah memilih disain atau membuat disain jaket kulit sendiri setelah dirasa pas dengan apa yang anda inginkan kita konsultasikan dengan pihak ejaketkulit.org-nya apabila sudah saling paham mengenai jaket kulit yang akan di bikin maka order akan diproses dengan penuh ketelitian       

Disain Jaket Kulit Eklsuif

Disain jaket kulit ekslusif merupakan output yang dihasilkan apabila kita merujuk pada pembuatan jaket kulit seperti apa yang saya tulis diatas, yakni kita dapat menentukan disain jaket kulit sesuai hasrat dan keinginan kita, dengan cara memilih disain atau merancang disain jaket kulit sendiri setelah cocok dengan apa yang kita inginkan kita konsultasikan dengan pihak ejaketkulit.org-nya apabila sudah saling-paham mengenai jaket kulit yang akan di bikin maka ketelitian akan menjadi “nafas” pengrajin jaket kulit di ejaketkulit.org nah disitulah keunggulan jaket kulit yang di jual di ejaketkulit.org sehingga  saya menulis judul  Membeli jaket kulit; mengapa harus ejaketkulit.org ?

Harga Kompetitif

Jaket kulit merupakan jaket yang ekslusif  dan tergolong pakain yang tidak murah, ekslusifitas jaket kulit terlihat dari harga dan pemakainya..pengguna jaket kulit merupakan refresentasi dari sebuah cara berpikir.. banyak penjual jaket kulit dimanapun anda berada, jaket kulit bisa di beli di kalimantan, jaket kulit bisa didapatkan di sulawesi dan jaket kulit merupakan pakain yang tidak sulit anda dapatkan namun kemudahan itu berimbas juga pada harga jual jaket kulit ditempat anda berada mungkin di daerah kalimantan atau pulau lainya bisa saja harga jaket kulit diatas 1 juta -1.5 juta hal ini wajar jika melihat jarak namun coba anda lihat di ejaketkulit.org anda menemukan harga jaket kulit yang kompetitif, anda hanya perlu sedikit menambahkan ongkos kirim dan jika harga jaket kulit yang tertera di ejaketkulit.org di jumlah dengan ongkos kirim ke daerah anda sudah selayaknya anda membeli jaket kulit di ejaketkulit.org

Konsumen Cerdas Paham Perlindungan Konsumen

Minggu, 24 Maret 2013




Konsumen Cerdas Paham Perlindungan Konsumen


Konsumen cerdas paham perlindungan konsumen adalah tajuk posting kali ini, mudah-mudahan sesuai dengan tema diatas, tulisan ini dapat menjadi refrensi tabahan bagi anda semua para “konsumen pintar” yang akan berubah menjadi “konsumen cerdas”, mengapa konsumen cerdas? Karena Konsumen Cerdas merupakan sebuah kata yang identik dengan tingginya pengetahuan kosumen dalam memilih suatu produk baik dari segi manfaat maupun fungsinya. sehingga konsumen cerdas dapat menentukan dengan cepat mana keinginan dan mana kebutuhan, sebab Konsumen Cerdas memiliki kemampuan untuk belajar memahami, memutuskan dan membeli barang dan jasa berdasarkan alasan tertentu.
Kita perlu mengingat pesan yang kerap dikatakan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan bahwa penjual dan pembeli dalam hal ini konsumen mempunyai ikatan hubungan yang erat dalam proses jual beli. Hal ini menyiratkan makna, setiap kita sebagai konsumen tidak bisa tidaj harus menjadi konsumen yang cerdas, yang lebih teliti, dan lebih cermat dalam memilih dan menentukan produk-produk yang akan dikonsumsi.

Selain itu, sebagai konsumen kita juga wajib mengetahui hak dan kewajibannya sebagai konsumen. Menjadi konsumen cerdas yang paham perlindungan konsumen tidaklah terlalu rumit. Beberapa tips yang selalu disosialiasikan Kementerian Perdagangan di bawah ini setidaknya bisa menjadi guideline setiap konsumen. Agar dapat menjadi konsumen cerdas, yakni sebagai konsumen harus dapat menegakkan hak dan kewajibannya, lakukanlah hal-hal ini, yaitu selalu teliti sebelum membeli, selalu memperhatikan label, membaca kartu manual garansi dan yang paling penting tanggal kadaluarsa, serta memastikan bahwa produk tersebut sesuai dengan standar mutu K3L, serta mendahulukan kebutuhan dalam membeli barang dan tidak mengutamakan keinginan.

Konsumen cerdas dan Tanggung jawab sosial

Stressing point dari tajuk utama artikel Konsumen cerdas paham perlindungan konsumen ini adalah, Konsekuensi dari sebuah kecerdasan (konsumen cerdas) itu sendiri yakni tanggung jawab sosial sebagai konsumen dengan cara membeli produk dalam negeri, bijak menjaga bumi, dan pola konsumsi pangan yang sehat. secara logika, Konsumen cerdas sudah pasti paham perlindungan konsumen, namun pehaman logika tersebut pun perlu dilengkapi atau diperkuat oleh sebuah regulasi, oleh sebab itu Undang-Undang melindungi hak dan kewajiban konsumen, serta mengetahui akses ke lembaga perlindungan konsumen untuk memperjuangkan hak-haknya. Sebagai Konsumen cerdas yang paham perlindungan konsumen, Selayaknya kita lebih mengetahui lagi bahwa; pemerintah telah membuat regulasi atau payung hukum untuk melindungi konsumen, dan secara terjadwal dan berkala pemerintah juga melakukan pengawasan. Akan tetapi tanpa dukungan nyata dari konsumen payung hukum yang telah ditetapkan pemerintah tidaklah akan efektif. Karena itu, sejalan dengan hal tersebut, maka tak kalah urgennya adalah keterlibatan aktif konsumen untuk bersikap kritis dan membantu Pemerintah dalam melakukan pengawasan.
Pada hakekatnya prilaku konsumen cerdas adalah merupak duta perlindungan konsemen kenapa demikian? karena konseumen cerdas yang paham perlindungan konsumen, karakter keshariannya akan sesuai dengan pemahamannya, sehingga ketika dia beriterkasi dengan siapapun prilakunya akan menginspirasi orang untuk menjadi “konsemen cerdas” peratanyaanya akankah “konsumen cerdas paham perlindungan konsumen” ini menjadi slogan  semata atau menjadi karakter dari jutaan penduduk Indonesia? Hal ini tergantung dari kita semua beranikah kita menjadi konsumen cerdas paham perlindungan konsumen?




http://ditjenspk.kemendag.go.id/


MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN ISLAM:

Rabu, 04 Mei 2011


 Mencari Format Baru Manajemen yang Efektif di Era Globalisasi

Oleh: Prof. Dr. Tobroni, M.Si.
(Universitas Muhammadiyah Malang Indonesia)
Abstract
Once of characteristic of Islamic education is international  orientation. Statement from Mohammed Prophet to go to study in chine and statement from the Koran to study in the long distant[1] (Q.S. 9:122) showed us if Islamic Education has international   oriented. International Orientation is one important aspects to be international recognition and  reference,  and  viability or sustainability in the future.
There are differences   between internalization and globalization even though both of them have similarities. There are symmetric relation in internationalization, and a-symmetric  relation in the globalization between developed countries and developing countries.  Globalization in education is opportunity for developed counties as provider or exporter education services, and treatment for developing countries as  importer education services. Generally, Moslem counties are developing countries.
Now, Islamic education alike madrasah (school) and pesantren (Traditional Islamic Boarding School) have many problems in all its aspects in bench mark and threshold from vision and mission, learning process, governance, quality of teacher, physic and facilities, finance, and information system.  Even though we don’t agree about negative impact from  globalization, that is a historical necessary. So, Islamic education must to improve and empower  in all components its education. Innovation Islamic Education must be oriented for RAISE: relevant, academic atmosphere, institutional commitment, sustainability and effective productivity.
The importance thing to improve quality of Islamic Education is management and leadership aspects. The prior research show that is correlation between effective school and effective management and leadership. Basically, all models of management and leadership be good and suitable to improve quality of Islamic Education. In this paper, author propose three models of management: management based entrepreneurship,  management based society, and management based mosque;  and two models of leadership: situational leadership and spiritual leadership.
1. Tantangan Internasionalisasi dan Globalisasi
Dalam perbincangan sehari-hari, istilah internasionalisasi kurang popular dibanding dengan istilah globalisasi. Internasionalisasi dan globalisasi Menurut Sofyan Effendi[2] ibarat kembar siam yang hampir sama bentuk fisiknya tetapi berbeda sifat dan wataknya. Penulis mengibaratkan sebagai dua bentuk kolesterol dalam tubuh manusia. Yang pertama (internasionalisasi) diidentikkan dengan kolesterol baik (HDL) yang sangat dibutuhkan oleh manusia, sedang yang kedua (globalisasi) diidentikkan dengan kolesterol jahat (LDL) yang memang jahat, brutal, dan rakus lagi  tamak.
Dunia pendidikan sudah seharusnya diselenggarakan dengan semangat dan orientasi internasional. Hadis Rasulullah yang sangat terkenal memerintahkan umatnya untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Cina (negeri yang jauh). Al-Qur’an Surat Taubah ayat 122 secara tersirat memerintahkan umatnya untuk menuntut ilmu di tempat yang jauh sehingga kalau nantinya kembali dapat memberikan peringatan, pencerahan dan pemberdayaan bagi kaumnya.[3] Internasionalisasi pendidikan merupakan keniscayaan apabila sebuah bangsa ingin memiliki peradaban yang unggul. Pendidikan Islam pada masa Rasulullah sampai abad ke 13 memiliki semangat, orientasi internasional yang kuat. Salah satu contohnya adalah getolnya ilmuwan muslim untuk mempelajari filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani dan Romawi untuk diterjemahkan, dikritisi dan dikembangkan sehingga melahirkan pemikiran, ilmu dan teknologi baru. Sesungguhnya ilmu pengetahuan, seni dan peradaban itu kata Rasululah merupakan “hikmah yang hilang,  dimanapun dan kepada siapapun, ambillah”.
Internasionalisasi pendidikan adalah upaya mengorientasikan dan menstandarkan mutu dan proses pendidikan melalui kerjasama internasional (antar Negara dan diantara Negara). Dalam internasionalisasi pendidikan, ideologi, tujuan, identitas budaya dan kepentingan   nasional masih menjadi dasar untuk membangun kerkjasama, dan kerjasama itu dilakukan dengan kesadaran dan sukarela. Setiap sekolah bebas memilih sekolah mitra dari luar negeri, memilih jenis dan program kerjasama, memililih waktu dan durasinya.
Baru-baru ini, semangat internnasionalisasi pendidikan mulai berkembang di Indonesia misalnya dengan dibukanya Sekolah Nasional Bertaraf Internasional (SNBI). Juga semakin banyaknya lembaga pendidikan yang melakukan akreditasi dan  standarisasi tidak hanya oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN), tetapi juga badan regional dan internasional semacam Asean Univercity Network (AUN) ataupun Association of Southeast Asia Institute of Higher Learning (ASAIHL), International standard Organization (ISO). Semakin berkembang sekolah atau perguruan tinggi yang menjalin kerjasama dalam berbagai bentuk seperti pertukaran guru dan pelajar, pengadaan pilot project bersama, twining programs, sisters schools dan lain sebagainya
.
Sedangkan globalisasi lebih bersifat pemaksaan kehendak, aspirasi dan  kepentingan negara maju terhadap Negara sedang berkembang untuk melakukan integrasi dalam  pasar bebas bersama. Melalui Multi National Corporation (MNC) dan Trans National Corporation (TNC)  yaitu Bank Dunia (World Bank), International Monetary Foundation (IMF) dan Organisasi Perdagangan Dunia (world Trade Organization/WTO) globalisasi membonceng neo capitalism, neo liberalism dan neo colonialism. Menurut Stiglitz[4], globaliasi merupakan interdependensi yang a-simetris (tidak sejajar) antarnegara, lembaga, dan aktornya. Negara-negara sedang berkembang yang serba terbatas kemampuan dan ketercukupannya di bidang sumber daya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, sistem organisasi, sistem politik, sistem informasi dan komunikasi dan lain sebagainya harus bersaing dengan bebas (tanpa proteksi) dengan kekuatan negara maju yang dimotori oleh Amerika Serikat, Inggris dan Australia. Persaingan dan pertandingan ini dapat diibaratkan petinju kelas terbang mini harus bertanding dengan kelas berat. Karena itu, interdependesi yang seperti itu jelas lebih menguntungkan negara –negara maju. Padahal, globalisasi awalnya dikampanyekan untuk membuka peluang bagi negara-negara berkembang guna meningkatkan kesejahteraannya melalui perdagangan global, tidak terbukti sama sekali, karena yang terjadi justru sebaliknya yaitu tatanan dunia yang penuh dengan ketidak-adilan, dan bahkan penindasan dan penjajahan baru (neo colonialism).
Menurut Effendi[5], logika yang mendasari ekspansi globalisasi gelombang ketiga diturunkan dari ideologi neoliberalisme, yang di dalam filsafat politik kontemporer memiliki afinitasnya dengan ideologi libertarianisme yang direntang melampaui batasnya yang ekstrem. Seperti halnya dengan libertarianisme yang membela kebebasan pasar dan menuntut peran negara yang terbatas, neoliberalisme percaya pada pentingnya institusi kepemilikan privat dan efek distributif dari ekspropriasi (pengambil-alihan) kemakmuran yang tidak terbatas oleh korporasi-korporasi transnasional.
Apa akibatnya kalau  pendidikan termasuk bagian dari komoditi dan komersialisasi sistem ekonomi global? Bagaimana strategi pendidikan Islam menghadapi hal itu? Benarkah globalisasi justru menawarkan peluang yang lebih menjanjikan bagi pendidikan untuk mewujudkan pendidikan bermutu internasional sebagaimana yang mungkin diyakini banyak ahli ekonomi?
2. Dampak Globalisasi bagi Pendidikan Islam
Globalisasi yang berkembang sekarang ini berwajah fundamentalisme pasar bebas dengan berbagai isntrumen pendukungnya jelas tidak menguntungkan negara sedang berkembang, namun globalisasi seperti itulah yang justru "dipaksakan" kepada negara-negara berkembang oleh negara maju melalui gurita pasar bebas yaitu IMF, Bank Dunia dan WTO. Dampak globalisasi di bidang pendidikan jelas menguntungkan Negara-negara maju. Masih menurut Sofyan Effendi (2007) tiga negara yang paling mendapatkan keuntungan besar dari liberalisasi jasa pendidikan adalah Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Pada 2000 ekspor jasa pendidikan Amerika mencapai USD 14 miliar atau 126 triliun rupiah. Di Inggris sumbangan pendapatan dari ekspor jasa pendidikan mencapai 4 % dari penerimaan sektor jasa negara tersebut. Sebuah publikasi rahasia berjudul Intelligent Eksport mengungkapkan bahwa pada 1993 sektor jasa telah menyumbangkan 20% pada PDB Australia, menyerap 80 % tenaga kerja dan merupakan 20 % dari ekspor total negeri kanguru tersebut.
Negeri-negeri muslim di seluruh dunia yang berpenduduk ± 1, 3 milyard jiwa,  merupakan salah negara-negara tujuan eksportir jasa pendidikan dan pelatihan dari Negara-negara maju. Hal ini diebabkan karena, pertama, perhatian umat Islam dan pemerintah negera-negara di dunia muslim terhadap bidang pendidikan masih rendah. Kedua, secara umum mutu pendidikan negeri-negeri muslim dari sekolah dasar sampai peguruan tinggi, jauh tertinggal dari standar mutu internasional. Kedua alasan tersebut sering menjadi alasan untuk "mengundang" masuknya penyedia jasa pendidikan dan pelatihan luar negeri ke negeri-negeri muslim. Untuk lebih meningkatkan ekspor jasa pendidikan ke negara-negara berkembang, intervensi pemerintah dalam sektor jasa tersebut harus dihilangkan. Liberalisasi semacam itulah yang hendak dicapai melalui General Agreement on Trade in Services (GATS).
Khusus di Indonesia, hingga saat ini, enam negara telah meminta Indonesia untuk membuka sektor jasa pendidikan yakni Australia, Amerika Serikat, Jepang, China, Korea, dan Selandia Baru. Subsektor jasa yang ingin dimasuki adalah pendidikan tinggi, pendidikan seumur hayat, dan pendidikan vocational dan profesi. Pendidikan dari perspektif industri tersier memiliki makna ganda: ekonomi, politik, budaya dan bahkan ideologis. Yang melatarbelakangi para provider pendidikan (negara-negara maju)  untuk membangun pendidikan di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari motif-motif tersebut. Dampak negatip dari hal ini adalah: banyaknya pendidikan dalam negeri –terutama swasta Islam- yang kalah bersaing dan kemungkinan mengakibatkan gulung tikar. Secara politik, ekonomi, budaya, nasionalisme da islamisme anak-anak Indonesia bisa saja akan mengalami persoalan.
Sebagaimana kita ketahui bahwa pendidikan mempunyai tiga tugas pokok, yakni pertama, nation and character building atau civic mission. Pendidikan sangat vital peranannya dalam mentransfer nilai-nilai dan jati diri bangsa; kedua,  empowering of human resource melalui upaya mempreservasi, mentransfer, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya; dan ketiga, dalam konteks Islam, pendidikan merupakan salah satu media dakwah yang paling efektif. Karena itu, setiap upaya untuk menjadikan pendidikan dan pelatihan sebagai komoditas yang tata perdagangannya diatur oleh lembaga internasional, bukan oleh otoritas suatu negara, perlu disikapi dengan semangat nasionalisme dan Islamisme yang tinggi serta dengan kritis oleh masyarakat negara berkembang.
3. Strategi Pendidikan Islam Menghadapi Globalisasi
a. Perspektif Mikro Kelembagaan
Sebagaimana dikemukakan di muka, globalisasi dan internasionalisasi disamping punya perbedaan juga ada persamaannya. Persamaannya adalah adanya interkoneksitas antar bangsa-bangsa di dunia. Sedang pebedaannya, kalau internasionalisasi berarti go internasional yang artinya kita aktif dan terdapat hubungan yang simetris. Sedang apabila globalisasi berarti sebaliknya yaitu terpengaruhi, termasuki, dan bahkan terkooptasi oleh keadaan global yang  dimotori oleh ”gurita”nya yaitu IMF, Bank Dunia dan WTO. Dalam globalisasi, pendidikan Islam berada di pihak yang pasif sebagai akibat dari hubungan yang a-simetris atau persaingan yang tidak seimbang

Mazhab-Mazhab Filsafat Pendidikan

Selasa, 19 April 2011



Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, maka filsafat pendidikan memiliki berbagai aliran atau mazhab, di antaranya :

1. Filsafat pendidikan idealisme
Idealisme berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya rohani atau intelegensi. Termasuk dalam paham idealisme adalah spiritualisme, rasionalisme, dan supernaturalisme. Tentang teori pengetahuan, idealisme mengemukakan bahwa pengetahuan yang diperoleh melalui indera tidak pasti dan tidak lengkap karena dunia hanyalah merupakan tiruan belaka, sifatnya maya yang menyimpang dari kenyataan sebenarnya. Selain itu, menurut pandangan idealisme, nilai adalah absolut. Apa yang dikatakan baik, benar, salah, cantik atau jelek secara fundamental tidak berubah, melainkan tetap dan tidak diciptakan manusia. Idealisme memiliki tujuan pendidikan yang pasti dan abadi, di mana tujuan itu berada di luar kehidupan manusia, yaitu manusia yang mampu mencapai dunia cita, manusia yang mampu mencapai dan menikmati kehidupan abadi yang berasal dari Tuhan.

2. Filsafat pendidikan realisme
Aliran ini berpendapat bahwa dunia rohani dan dunia materi merupakan hakikat yang asli dan abadi. Kneller membagi realisme menjadi dua :

Realisme rasional, memandang bahwa dunia materi adalah nyata dan berada di luar pikiran yang mengamatinya, terdiri dari realisme klasik dan realisme religiu Realisme natural ilmiah, memandang bahwa dunia yang kita amati bukan hasil kreasi akal manusia, melainkan dunia sebagaimana adanya, dan substansialitas,sebab akibat, serta aturan-aturan alam merupakan suatu penampakan dari dunia itu sendiri.
Selain realisme rasional dan realisme natural ilmiah, ada pula pandangan lain mengenai realisme, yaitu neo-realisme dan realisme kritis. Neo-realisme adalah pandangan dari Frederick Breed mengenai filsafat pendidikan yang hendaknya harmoni dengan prinsip-prinsip demokrasi, yaitu menghormati hak-hak individu. Sedangkan realisme kritis didasarkan atas pemikiran Immanuel Kant yang mensintesiskan pandangan berbeda antara empirisme dan rasionalisme, skeptimisme dan absolutisme, serta eudaemonisme dengan prutanisme untuk filsafat yang kuat.

3. Filsafat pendidikan materialisme
Materialisme berpandangan bahwa realisme adalah materi, bukan rohani, spiritual, atau supernatural. Cabang materialisme yang banyak dijadikan landasan berpikir adalah positivisme yang menganggap jika sesuatu itu memang ada, maka adanya itu adalah jumlah yang dapat diamati dan diukur. Oleh karena itu, positivisme hanyamempelajari yang berdasarkan fakta atau data yang nyata.

4. Filsafat pendidikan pragmatisme
Pragmatisme merupakan aliran paham dalam filsafat yang tidak bersikap mutlak, tidak doktriner, tetapi relatif atau tergantung pada kemampuan manusia. Dalam pragmatisme, makna segala sesuatu dilihat dari hubungannya dengan apa yang dapat dilakukan, atau benar tidaknya suatu ucapan, dalil, dan teori, semata-mata bergantung pada manusia dalam bertindak. Menurut pragmatisme, pendidikan bukan merupakan proses pembentukan dari luar dan juga bukan pemerkahan kekuatan laten dengan sendirinya, melainkan proses reorganisasi dan rekonstruksi dari pengalaman individu
 

Most Reading